Menaklukan Jakarta Dengan Bubur Ayam

0
49

TRIBUNNEWS. COM – Kawasan Jalan Mentawai, Kebayoran Terakhir, Jakarta Selatan, tidak terlalu penuh Sabtu (17/7) pagi itu. Hanya beberapa orang yang terlihat berlalu lalang. Sejumlah gerobak penjual sasaran berjejer dengan menjaga jarak pada pinggiran jalan.

Pemimpin MPR RI Bambang Soesatyo seolah-olah yang terlihat di dalam acara YouTube Bamsoet Channel, tampak mendekati gerobak penjual bubur usai olahraga jalan santai. Duduk di kursi plastik, Bamsoet memesan semangkuk bubur ayam.

“Pesan buburnya ya. Tidak pedas, ” ujar Bamsoet kepada penjual bubur mandung, Mang Obek.

Sembari menyantap bubur mandung, Bamsoet mendengarkan kisah Mang Obek yang sudah lebih 20 tarikh merantau ke Jakarta dari Cirebon. Mang Obek bangga bisa menaklukan Jakarta dengan Bubur Ayamnya. Awalnya Ia bekerja pada pedagang kembang yang mangkal di kios kembang di kawasan Mahakam Kebayoran Baru sejak sebelum reformasi. Sampai kesimpulannya kios tempatnya bekerja digusur & dijadikan Taman Kota oleh Pemkot DKI Jakarta.

Semenjak itulah Ia mulai banting stir berjualan Bubur Ayam sendiri secara modal ratusan ribu dan gerobak dorong yang ia beli secara angsur. Bersama Mpok Iin yang juga berasal dari Cirebon serta baru saja dinikahi, akhirnya perjalanan hidup dengan berjualan Bubur Mandung dan Empal Gentong itupun dimulai.

Jika hari-hari pokok Mang Obek mangkal di seberang kantor Kejaksaan Agung. Hanya keadaan Sabtu dan minggu pagi Dia mangkal di kawasan jalan Mentawai, Mahakam Kebayoran Baru. Sejak Pandemi Covid-19 atau Corona, Mang Obek mengakui penghasilan dagangannya merosot sangat tajam. Bermodalkan sekali dagang Rp 300-500 ribu, Mang Obek dan istri hari-hari ini jika nafkah bagus bisa meraih keuntungan sejumlah Rp 100. 000 hingga Rp 200. 000 perhari.

Sebelum Corona Mang Obek bisa berjualan setiap hari. Setelah Corona melanda dan diberlakukan pembatasan baik berskala besar (PSBB) oleh Pemprov DKI Jakarta, Mang Obek cuma berjualan di hari Sabtu & Minggu saja.

“Sejak Corona kalau berjualan setiap hari, dagangan sering tidak laku. Makanya kita hanya berjualan di keadaan libur, Sabtu dan Minggu. Alhamdulillah di hari Sabtu dan Minggu bubur ayam kita habis tetap, ” cerita Mang Obek.

“Uang hasil dagang hamba kirimkan ke kampung untuk biaya anak sekolah. Dua anak hamba modok pesantren di Sidoarjo, Jawa Tengah. Dari hasil dagang Bubur dan menaklukan Jakarta sedikit-sedikit hamba bisa bangun rumah dan ladang dikampung, ” kata bapak 3 anak ini.

Namun sejak pandemi Covid-19, Mang Obek mengakui kesulitan mengirim uang ke kampung halaman. Pendapatannya menurun dratis. Hal serupa juga dialami anak pertama yang memilih profesi setara dengan dirinya.