Terapi Plasma Konvalesen Pasien Corona yang Dilakukan RSPAD Beri Kabar Menggembirakan, Ini Kata KSAD

0
94

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – RSPAD Gatot Subroto sebagai rumah sakit rujukan penganganan pasien Covid-19 melakukan pengobatan dengan cara pemberian plasma darah atau konvalesen milik pasien yang sudah sembuh.

Diketahui, terapi pengobatan ini sudah dicoba di beberapa negara seperti Cina, Amerika Serikat, Perancis, dan Inggris dalam upaya memerangi virus corona atau Covid-19.

Menurut Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Andika Perkasa, RSPAD merupakan rumah sakit pertama yang melakukan penelitian terhadap plasma konvalesen terhadap pasien Covid-19.

Baca: Hingga Selasa, 89 Ribu Orang Jalani Rapid Test, 3.646 di Antaranya Reaktif Virus Corona

“RSPAD merupakan rumah sakit pertama yang melakukan penelitian dan eksperimen plasma convalecent terhadap pasien Covid-19,” kata Jenderal Andika Perkasa dilansir dari chanel Youtube TNI AD, Selasa (12/5/2020).

Dalam teleconference berkala yang dilakukan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Andika Perkasa, pihak RSPAD memberikan laporan terkait progres terapi plasma tersebut.

Direktur Pembinaan dan Pengembangan RSPAD Kolonel CKM dr Nana Sarnadi menjelaskan dua pasien yang telah diberikan terapi plasma konvalesen yang semula dirawat di ruang isolasi, sudah dapat dipindahkan ke ruang rawat biasa dengan kondisi yang baik.

Baca: Lawan Virus Corona, Ganjar Pranowo Ajak Masyarakat Jogo Tonggo, Apa Maksudnya?

“Untuk pasien ketiga, yang baru diberikan plasma hari Rabu lalu, saat ini kondisinya baik dan akan diberikan terapi lagi tanggal 9 Mei besok,” kata dr Nana Sarnadi.

Pihak RSPAD terus melakukan evaluasi setiap hari terhadap pasien untuk kemajuan klinis, laborotis, maupun radiologis.

Setiap pasien diberikan satu kantong berisi 100 CC dalam tiga kali pemberian dengan respon pasien yang signifikan.

“Pemberian plasma 100 CC merupakan suatu hal yang baru, karena hasil penelitian di luar diberikan 200 CC hingga 600 CC. Namun kami sangat hati-hati karena dalam plasma, walaupun serum, ada butir-butir protein yang harus kami waspadai dengan respon reaksi alerginya, sehingga kami berikan dalam dosis lebih sedikit,” jelas dr Nana Sarnadi.

Baca: Pasien Sembuh dari Virus Corona Tembus 3.000 Orang, DKI Jakarta Terbanyak