tujuh Sastrawan Terima Anugerah Sastera Rancage 2021

0
176

Laporan tribun NetworK Cecep Burdansyah

TRIBUNNEWS. COM, BANDUNG – Yayasan Kultur Rancagé mengumumkan tujuh Sastrawan pemenang Penghargaan Anugerah Sastera Rancagé ke 33, yang kali pertama diselenggarakan secara daring di kantor Melsa. net Bandung pada Minggu, 31 Januari 2021.

Ketujuh pemenang itu ialah Dadan Sutrisna untuk Sastera Sunda dengan Roman berjudul Sasalad, Supali Kasim menggantikan sastera jawa dengan Kumpulan Sajak yang berjudul Sawiji Dina Sawiji Mangs.

Kemudian untuk Sastera Bali ada kumpulan Cerpen Berjudul Nglekadang Mèmè karya Komang Berata, Sastera Terkatung-katung ada kumpulan puisi karya Elly Dharmawanti dengan Judul Dang Miwang Miku Ading, Sastera Madura tersedia kumpulan Puisi berjudul Sagara Aeng Mata Ojan karya Lukman Hakim AG, dan terakhir.

Dan Risnawati Pemenang Hadiah Samsudi dengan karya cerpen anak dengan berjudul Pelesir Ka Basisir.

Penyelenggaraan Anugerah Sastera Rancage kali ini pun untuk kali pertama tanpa dihadiri sosok penggagas acara tersebut, Ajip Rosidi dengan sudah tutup usia. Anugrah Huruf Rancage diadakan pertama kali tahun 1989, dan diadakan konsisten tiap tahun, jadi sudah 33 tahun.

Mengucapkan juga: dr Jelas Sutrisna Meninggal karena Corona, Anak Curiga Ayahnya Tertular dari Anak obat

Dalam sambutannya, Erry Riyana Hardjapamekas selaku Pemimpin Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage berharap kepada pemerintah melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, agar Pemberian Sastera Rancage ini dapat menjelma indikator untuk menempatkan bahasa daerah dalam kurikulum nasional, setidaknya untuk bahasa-bahasa daerah yang hidup dengan lisan dan tulisan.

“Selama ini posisi bahasa wilayah berada dalam kurikulum lokal dengan sepenuhnya diserahkan kepada pemerintah kawasan, padahal bahasa daerah memiliki kedudukan penting sebagai penggali kearifan lokal yang memperkuat kebudayaan nasional, ” ungkap eks Wakil Ketua KPK itu.

Bahas Daerah Pengutamaan
Sementara itu dalam kesempatannya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengatakan, Kemendikbud menempatkan kemajuan bahasa sebagai program prioritas melalaikan badan pengembangan dan pembinaan atau Badan Bahasa.

“Secara konsisten kami menyelenggarakan program pengekalan bahasa daerah. Kami menyadari bahwa bahasa daerah yang selama tersebut terdata sebanyak 718 bahasa ialah suatu aset bangsa kita. Kelangsungan hidup bahasa tersebut akan benar bergantung pada para penutur serta masyarakat tuturnya, ” ujar Mendikbud.

Mengaji juga: Jilbab pada Narasi Otoriter Rezim Nadiem Makarim