Arsitek Masyarakat Sulsel Desak Pelajaran Moderasi Beragama di Madrasah dan Madrasah

0
95

TRIBUNNEWS. COM kepala Setiap daerah di Indonesia terdiri sejak masyarakat yang beragam, tiba dari suku, etnik, had agama, termasuk di Sulawesi Selatan. Karakter khas tersebut tak jarang melahirkan fundamentalisme yang kerap jadi pemicu konflik dan radikalisme.

Kedua potensi pada atas telah masuk ke pendidikan formal, terutama di sekolah dan madrasah. Apalagi, hasil penelitian yang telah ditemukan oleh Balai Litbang Agama Makassar mengindikasikan bahwa terdapat beberapa siswa dengan telah memperoleh paham fundamentalisme dari beberapa guru & alumni.

Melihat adanya tantangan tersebut, Departemen Agama (Kemenag) dalam era pemerintahan Kabinet Indonesia Maju mengorientasikan sebagian kebijakan pendirian di bidang agama & pendidikan agama pada moderasi beragama.

Dalam buku Moderasi Beragama yang diterbitkan oleh Kemenag tahun 2019, terdapat empat indikator dalam pelaksanaan moderasi beragama, yaitu janji kebangsaan, toleransi, anti kekerasan, dan akomodasi kebudayaan lokal.

Bersamaan secara 4 indikator moderasi mematuhi tersebut, Kemenag RI juga berusaha mendorong kebijakan pada penyusunan sistem pembelajaran yang menciptakan lulusan-lulusan yang siap memahami dan mengamalkan moderasi beragama.

Dengan tujuan memperkuat keempat indikator moderasi beragama di berasaskan, Balai Litbang Agama Makassar melakukan penelitian mengenai pendirian tokoh masyarakat di Sulawesi Selatan tentang pendidikan moderasi beragama.

Balitbang Agama Makassar melakukan ramah kepada 72 tokoh petunjuk, tokoh adat, tokoh pelajaran, dan tokoh pemerintah dengan mendalam. Penelitian dilaksanakan di sepuluh kota/kabupaten di Sulawesi Selatan, yaitu: Makassar, Gowa, Takalar, Jeneponto, Baaeng.

Dari hasil penelitian, ditemukan beberapa poin istimewa mengenai perspektif para tokoh masyarakat Sulawesi Selatan mengenai pendidikan moderasi beragama.

Materi pelajaran yang membentuk karakter religiositas

Patuh para tokoh masyarakat pada Sulawesi Selatan, pendidikan moderasi beragama harus dapat membuat karakter religiositas, yang mencakup karakter spiritualitas.

Oleh karena itu, para-para tokoh masyarakat juga tersua bahwa materi utama pelajaran moderasi beragama perlu mencakup tentang fitrah manusia sebagai makhluk moderat, hikmah, samaawiyyatun, nuuraniyyatun, hayyatun, allaamatun, bilquwwati, faalatun, agama rahmat bagi seluruh alam, ajaran agama yang dijelaskan secara tekstual dan kontekstual, ajaran agama tentang kebangsaan, pluralitas, penerimaan, dan anti kekerasan, dan moralitas.

Berdasarkan kearifan lokal serta disebarkan lewat pendidikan

Tokoh umum Sulsel juga berharap kepribadian moderasi dapat dibentuk sebab nilai-nilai kearifan lokal. Patuh para tokoh masyarakat, terdapat 41 kearifan lokal dengan dapat dijadikan sebagai bagian materi pendidikan moderasi mematuhi, di antara lain: Kebajikan lokal bernilai karakter sesuai masirik, appaka sulapa, pangngadakkang/pangadereng, kearifan lokal bernilai pemersatu seperti sipakatau sipakalebbi, kebiasaan lokal bernilai agama seperti maudu lompoa, dan kebiasaan lokal bernilai budaya sesuai tudang sipulung.

Selain itu, tokoh asosiasi juga menilai perlunya mengaplikasikan pendidikan moderasi beragama dalam satuan pendidikan formal, non-formal, hingga informal.

Untuk pendidikan formal, jika bersinggungan dengan kebijakan penyekatan mata pelajaran, maka pendidikan moderasi beragama dapat diajarkan secara integratif, pengayaan, sintesis, ekstrakurikuler, atau muatan lokal.

Sementara itu untuk pendidikan non-formal, pembelajaran moderasi beragama dapat berbentuk majelis taklim. Untuk macam pendidikan informal, pembelajaran sanggup dilakukan dengan memperkuat pengetahuan calon orang tua mengenai moderasi beragama pada kesibukan kursus calon pengantin.

Para tokoh klub juga menyarankan model pembelajaran life skill-based education biar para peserta didik dapat mengembangkan kepribadian, berpikir berat, memecahkan masalah, serta tumbuh secara sosial.

Metode ceramah, pembiasaan, eksperimen, atau digital dapat digunakan agar pendidikan moderasi taat berlangsung secara efektif.

Perlunya pelajaran moderasi beragama yang sistemik di sekolah dan langgar

Tipu masyarakat menilai perlunya kebijaksanaan yang berupa inisiasi pengembangan akademik, kelembagaan, sistem manajemen, serta pengajar agar metode pembelajaran berjalan secara efektif.

Mereka selalu merekomendasikan penyediaan buku Pendidikan Moderasi Beragama, yang bisa dilakukan mencetak buku-buku paket baru, meminta tokoh terbatas untuk menulis buku, serta implementasi digital dengan memproduksi website tertentu yang memuat materi-materi moderasi beragama.

Secara umum, arsitek masyarakat berpendapat pendidikan moderasi beragama perlu mencakup wujud yang bersumber dari nilai-nilai agama dan kearifan lokal. Sistem pembelajaran dan kebijakan penerapan pendidikan moderasi taat yang semakna dengan wasatiyah .

Lebih lanjut sedang, para tokoh masyarakat dalam Sulawesi Selatan juga menyarankan penyusunan pembelajaran Pendidikan Moderasi Beragama yang sistemik dan memiliki kurikulum. Hal tersebut mendesak sebab masyarakat saat itu masih rentan terlibat radikalisme.

Berdasarkan petunjuk dari tokoh masyarakat di atas, Balai Litbang Keyakinan Makassar merekomendasikan beberapa hal di bawah ini:

Prima, secara adanya desakan dari para tokoh masyarakat untuk menerapkan pendidikan moderasi beragama pada sekolah dan madrasah, pendirian dari 72 tokoh asosiasi tentang pendidikan moderasi taat hendaknya diakomodasi.

Kedua, perlu dibuat regulasi untuk mendukung Pendidikan moderasi beragama. Pendidikan Moderasi Beragama membutuhkan keterlibatan bermacam-macam pihak, baik secara politis, ekonomis, maupun sumber gaya manusia, baik di sekolah maupun madrasah.

Ketiga, pendidikan moderasi beragama perlu memuat bahan tentang ajaran agama secara spiritual, ajaran agama yang ditafsirkan secara tekstual & kontekstual, dan local wisdom (kearifan lokal).

Keempat, pembelajaran moderasi beragama perlu dilaksanakan secara fleksibel, baik di satuan Pendidikan formal, non sahih, maupun informal dan mengarah pada pengembangan diri dan membentuk karakter moderasi, secara metode yang sesuai.