Upaya Cegah Corona, Bio Farma Penerapan PCR Tak Perlu Lagi Memasukkan

0
18

KOMPAS. TV – Di tengah semakin bertambahnya jumlah anak obat positif corona, muncul & nbsp; informasi bahwa PT Bio Farma sudah mampu memproduksi tes kit reagen Polymerase Chain Reaction atau PCR, hasil pengembangan Badan Pengkajian serta Penerapan Teknologi (BPPT).

Produksi massal alat tes PCR Bio Farma ini sebagai jalan pemenuhan tes Covid-19 terhadap 2juta penduduk Indonesia dalam waktu sedikit untuk mendapatkan rasio 0, 6 persen penduduk Indonesia yang dites.

Selama ini, Nusantara harus mengandalkan PCR impor di upaya mempercepat pendeteksian corona.

Namun hingga kini masih ada bahan baku yang harus didatangkan dari sungguh.

& quot; Kuranglebih kalau teknologinya sudah siap, saja mungkin nanti ada kendala kecil di bahan baku yang belum datang, & quot; ucap& nbsp; Deputi BPPT& nbsp; Soni Solistia Wirawan.

& quot; Masih harus dibeli dari sungguh, jadi kita masih menunggu sasaran bakunya. Nanti kalau sudah tujuan baku itu datang, prototype kita siapkan, & quot; sambungnya.

Sementara itu, Bio Farma yang memiliki kapasitas& nbsp; produksi& nbsp; terpasang sebesar 15. 000 test per hari, akan membikin perdana sebanyak untuk 50 ribu test atau setara 2. 000 kit pada Bulan Mei 2020, dan tidak lama berselang di dalam waktu dekat, akan memenuhi kapasitas& nbsp; produksinya sebanyak 4. 000 kit atau setara dengan 100 ribu test.

Pada saat yang sama, Pemprov Jawa Barat merencanakan tes PCR massal, dengan mencontoh Korea Selatan dengan dianggap WHO sebagai negara ulung dalam melakukan tes PCR secara jumlah penduduk sekitar 52 juta.

& quot; Kebetulan penduduk Jawa Barat mirip jumlahnya sekitar 50 juta, jadi tumpuan kita itu untuk menemukan peta persebaran Covid-19 adalah mengetes kepada yang diwaspadai dan dicurigai sebesar 300. 000, & quot; & nbsp;

Sejauh mana keandalan tes kit reagen PCR karya anak negeri ini?

Simak pembahasan lebih lengkap bersama dengan Direktur Pemasaran, Studi dan Pengembangan PT Bio Farma Sri Harsi Teteki, Deputi Dunia Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi (BPPT) Soni Solistia Wirawan, serta Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.